Tampilkan postingan dengan label IMM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IMM. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Oktober 2010

MASTA IMM ZONA 2











MASTA IMM UAD ZONA 2












" Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Surat Al Imran; 104)"












MasTa (Masa Ta'aruf) yaitu suatu komponen awal yang berfungsi untuk mengenalkan dan memasyarakatkan IMM, sekaligus sebagai wahana rekruitmen anggota serta sebagai persiapan perkaderan Darul Arqam Dasar (DAD).








MasTa IMM UAD Zona 2 ini diselenggarakan oleh IMM Komisariat PB2(Pendidikan Bahasa 2), Komisariat Sastra, Komisariat Bimbingan Konseling, dan Komisariat Hukum pada 16-17 Oktober 2010 bertempat di Kali Biru, Kulonprogo. Denngan mengambil tema " Menumbuhkan Semangat Berorganisasi Demi Terwujudnya Tunas-Tunas Muda Islam yang Progresif", kegiatan ini dapat memberi inovatif, inspirasi, dan motivasi MAHAsiswa pada umumnya dan kader Muhammadiyah pada khususnya demi menunjang aktualisasi peran intelektual dalam membangun peradaban Islam dan Bangsa Indonesia.








Acara yang didukung oleh sekitar 60 peserta, 20 panitia yang solid, dan 6 instruktur dari Korps Instruktur PC Djazman Alkindi ini dinilai sukses. Walaupun kegiatan malam dalam pentas seni malam gagal terwujudkan dikarenakan Allah menghendaki hujan mengguyur untuk mencurahkan nikmatNya. Dengan mengusung basic education outbound, peserta dibekali dengan pelatihan pengorganisasian, managing team, dan kesinergian dalam memecahkan masalah. (-nks-)












Tetap berFASTABIQUL KHOIROT..^_^








Kamis, 20 Mei 2010

Kualiats Mahasiswa UAD yang Substantif antara Cita-cita dan Realita Oleh

5CUAD%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml">

Kualitas Mahasiswa UAD yang Substantif

antara Cita-cita dan Realita

Oleh : Erizal (Ketua Korkom IMM UAD)

Q.S An Nisa’ : 9

Ketika berbicara Mahasiswa maka kita berbicara Pendidikan dan penerus perjuangan peradaban umat manusia, bangsa, dan agama. Pendidikan di tingkat mahasiswa tentu sangat berbeda dengan pendidikan di tingkat siswa – TK, SD, SMP, SMA -, mulai dari arahan, metode dan landasan kemerdekaan berpikir, dan pertimbangan ini harus mencakupi satu sama lainnya.

Seterusnya mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan untuk periode ini akan merecrut lebih kurang 3.000 mahasiswa baru (MABA), dari sekian banyaknya MABA yang di recrut oleh UAD tentunya secara kuantitas jika itu memadai Insya Allah Bangsa dan Agama ini tidak akan pernah putus penerus perjuangan ditambah lagi UAD mempunyai slogan “Moral and Intelektual Integrity” dan diharapkan slogan itu tertanam di diri setiap mahasiswa, serta tidak hanya sebatas slogan dan bahkan muncul di kalangan mahasiswa bahwa “saya kuliah trus kerja" saja, akan tetapi perlu muncul mahasiswa yang merdeka secara pemikiran.

Sekali lagi UAD saat ini harus memperhitungkan secara mendalam terkait MABA yang berjumlah 3.000 orang tersebut, karena 3 tahun belakangan ini belum terlihat kemajuan yang substantif - sebagaimana yang di katakan Prof. Syafi’i Ma’arif “Kemerdekaan Berfikir” - dan berani bermimpi setinggi – tingginya, dua hal tersebut harus dimiliki oleh mahasiswa. Ditambah lagi dengan kondisi keorganisasian mahasiswa putus generasi, dapat diamati dimana pada saat ini tidak banyaknya Mahasiswa yang perhatian terhadap Keorganisasian Mahasiswa, padahal di Organisasi Mahasiswa inilah tempat mereka akan melatih diri baik pola pikirnya terhadap hidup, masyarakat dan bangsa ini serta berani memilih bagaimana memperbaiki Bangsa dan Umat ini.

Sejak awal berdirinya Muhammadiyah 1912 yang lalu K.H. Ahmad Dahlan pendiri organisasi Muhammadiyah yang selanjutnya nama pendiri Muhammadiyah ini di ambil sebagai nama sebuah Universitas ini (UAD) sudah mencanangkan betapa pentingnya pendidikan bagi umat dan bangsa ini, sedikit banyaknya kata Prof.DR.H Syafi’i Ma’arif dalam kata pengantar buku (Reformasi Pendidikan Muhammadiyah Suatu Keniscayaan, editor; Said Tuhuleley) sebagian tokoh Indonesia seperti Ir. Soekarno, Jend. Sudirman, Jend. Sabirin, Soeharto dan Amien Rais pernah merasakan Pendidikan Muhammadiyah. Dan yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah sanggupkah UAD memunculkan kembali tokoh-tokoh yang sebagaimana pernah di didik oleh K.H Ahmad Dahlan ini.

Terkait dengan “Kemerdekaan Berfikir” di UAD belum sepenuhnya mendukung, karena UAD hanya sebatas menilai secara kuantitas sampai saat ini dan belum terlihat ada upaya bagaimana mahasiswa di ajarkan untuk “merdeka”, walaupun pihak rektorat mengatakan bahwa “kami sudah berupaya dan memberikan fasilitas”, nah berkenaan dengan fasilitas, saya melihat ibarat beli gorengan seharusnya Rp. 1.000 mendapatkan 2 buah gorengan akan tetapi karena keangkuhan dan ketidak mengertian kebutuhan mahasiswa hal itu malah sebaliknya uang yang Rp. 1.000 tidak memperoleh 2 buah gorengan malah 1 atau bahkan ½ dari gorengan itu, beginilah kondisinya. Dengan demikian dapat difahami bahwa mahasiswa sudah memenuhi kewajibannya untuk membayar, namun belum menerima haknya selaku mahasiswa yakni menikmati kewajibanya itu.

Kalau kita berbicara terkait mahalnya biaya di UAD, dari tahun ke tahun itu selalu meningkat. Saya sangat bingung untuk apa lagi biaya itu di tingkatkan padahal dari 3 tahun yang lalu sampai sekarang tidak ada perubahan yang substantif, kalau memang UAD ingin memajukan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ini (UAD) maka jangan di lihat secara fisik namun harus substantif yakni kualitas “Kebebasan Berfikir Mahasiswa UAD ” dan harus menghargai pengalaman keilmuan mahasiswa tersebut, serta dosen jangan hanya menganggap ia yang paling benar. Kemudian disinilah peran penting dosen untuk meningkatkan kualitas peserta didik dimana dosen tidak hanya berorientasi memenuhi quota 14 kali pertemuan, namun yang sangat penting adalah orientasi apa yang disampaikan, karena saat ini mata kuliah yang dipelajari itu tidak mempunyai dampak yang signifikan atau substantif terhadap mahasiswa, dan ini menjadi tanggung jawab bersama untuk memformulasikan secara bersama – sama (Dosen, pejabat kampus dan mahasiswa itu sendiri)

Allah telah menegaskan bahwa kualitas itulah yang terpenting, karena generasi penerus – mahasiswa – tersebut perlu di bekali dan merekalah yang akan melanjutkan estafet perjuangan bangsa ini atau sering kita dengar “pengisi kemerdekaan”, walaupun memang kemerdekaan Indonesia hanya bersifat simbolis dan administratif saja dan kemerdekaan itu belum ada yang ada adalah penjajahan gaya baru (with love and mind). Allah SWT berfirman dalam surat An Nisa’ : 9

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang – orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah dibelakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraannya)......”

Dari ayat itu yang menjadi nilai substantif adalah kesejahteraan atau kemakmuran generasi penerus, kalau di kaitkan ke dunia pendidikan maka yang di maksud adalah proses yang harus dilakukan oleh lembaga pendidikan itu adalah proses untuk membentuk mahasiswa yang merdeka atau berani memilih mau berperan seperti apa di bumi Allah ini.

Dari beberapa pemahaman yang saya sampaikan dapat kita pahami bahwa banyak sedikit mahasiswa itu tidak menjadi masalah yang menjadi wajib hukumnya adalah kualitas peserta didik dan kualitas peserta didik tidak akan tergantung dengan bagus-tidaknya, baik-buruknya, dan atau canggih tidaknya fasilitas yang disediakan. Namun yang terpenting adalah keikhlasan Dosen, Karyawan dan pejabat kampus untuk mendidik peserta didiknya menjadi manusia yang merdeka. Semua yang saya paparkan bukanlah bermaksud menjatuhkan atau seperti apa, yang pasti adalah UAD adalah milik kita bersama dan mari kita memejukannya secara bersama-sama. Wassalamu’alaikum.

Sabtu, 15 Mei 2010

Sabtu, 17 April 2010

DAKWAH KAMPUS IMM UAD

DAKWAH KAMPUS IMM UAD
Visi :
Mewujudkan Moral and Intelektual Integrity
Misi :
Menertibkan Aqidah, Ibadah dan Akhlak sesuai dengan Tuntunan Rasulullah
Mengkaji ilmu pengetahuan dengan kerangka pikir islam
Target :
1. Mahasiswa meyakini bahwa menuntut Ilmu itu adalah bentuk ibadah yang semata hanya diperuntukkan untuk Allah
2. Dalam bergaul mahasiswa dapat menjaga hubungannya dengan lawan jenis
3. Terbangun rasa saling membantu antar mahasiswa
4. Hilangnya penyakit Apatisme, Prakmatisme, dan Hedonisme Mahasiswa
5. Meyakini bahwa Ilmu tidak terpisah dari Islam ( Islam Sebagai Ilmu )
Indicator :
1. Dalam mengikuti kuliah mahasiswa tidak mengharap nilai semata akan tetapi Pengetahuan
2. Terjadinya forum – forum diskusi di kampus
3. Meningkatnya kemauan membaca dan menulis
4. Shalat berjamaah, berpakaian syar’i,
5. Secara kuantitas mahasiswa banyak bergabung di organisasi yang ada di UAD
6. Dapat membaca Al qur’an dengan lancar sesuai tuntunan bacaan dan dapat memahami Al Qur’an untuk dijadikan pedoman kehidupan
7. Menjadikan Al Qur’an dan As Sunnah sebagai tolok ukur Ilmu Pengetahuan
Peluang:
1. Rektorat
2. IMM se-UAD
3. BEM/ DPM se-UAD
4. LPSI
5. UKM
6. TAKMIR MESJID KAMPUS
Sasaran Dakwah :
Mahasiswa UAD
Strategi :
Gerakan Jama’ah Dakwah Jama’ah
1. Menempatkan Mahasiswa di Takmir Mesjid Kampus
• Mengadakan Pengkajian – pengkajian di Mesjid Kampus
• Menjadi mu’adzin mesjid kampus
2. Mengoptimalkan Kerja LPSI dengan bantuan Mahasiswa
 Pendampingan (AIK,max 1:10) di Study Islam I dan Sertifikasi I
 Pendamping adalah mahasiswa yang secara kapabilitas dapat memahami Islam, terutama yang berideologi Muhammadiyah
Peluang :
• Anggota IMM ( FAI, Psikologi, Ekonomi, Sastra, PBII, Hukum, Farmasi, FKM, FTI, MIPA/JPMIPA)
• Mahasiswa yang mumpuni
a. Tugas Pendamping ( max 1: 10 )
• Pendamping bertugas memantau pemahaman terhadap AIK dan Pengamalannya ( Ilmu Amaliyah dan Amal Ilmiyah)
• Menjadi fasilitator (Guru sekaligus Murid ) dalam memahami Islam secara benar
b. Materi Pendampingan: Materi Study Islam dan Sertifikasi
c. Waktu dan tempat : Fleksibel
3. Setiap rapat dilakukan baca Alqur’an beserta artinya dan kultum sebelum rapat dimulai
Metode :
Pendidikan Orang dewasa dengan menjadikan objek sebagai subjek yang aktif ( otak adalah mesin bukan gelas)